Langsung ke konten utama

Bersama Hentikan Kusta: Jangan Ada Lagi Pengucilan di Tengah Masyarakat

Kusta bukan lagi penyakit yang harus membuat seseorang kehilangan kesehatan, pekerjaan, keluarga, maupun kehidupan sosial. Saat ini, kusta sudah diketahui penyebabnya, tanda-tandanya dapat dikenali, dan pengobatannya tersedia. Yang paling penting, kusta dapat disembuhkan.


Namun, kusta masih menjadi masalah di sejumlah masyarakat. Bukan hanya karena penyakitnya, tetapi juga karena ketakutan, mitos, keterlambatan pemeriksaan, kemiskinan, dan terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Karena itu, upaya menghapus kusta harus dilakukan dengan dua cara sekaligus: mengobati penyakitnya dan menghilangkan stigma terhadap penderitanya.

Kusta Menyerang Kulit dan Saraf

Kusta atau lepra merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini berkembang secara perlahan dan terutama menyerang kulit serta saraf tepi.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya bercak kulit berwarna lebih pucat atau kemerahan yang mengalami mati rasa. Bercak tersebut mungkin terlihat seperti penyakit kulit biasa, tetapi hilangnya rasa pada bagian kulit menjadi tanda penting.

Selain bercak, penderita dapat mengalami kesemutan, kelemahan pada tangan atau kaki, penebalan saraf, atau luka yang tidak terasa sakit. Pada kondisi yang lebih berat, jari tangan atau kaki dapat mengalami perubahan bentuk. Kelopak mata juga dapat mengalami kesulitan menutup.

Karena perkembangan penyakitnya lambat, banyak orang tidak segera menyadari bahwa dirinya membutuhkan pemeriksaan. Padahal, semakin cepat kusta ditemukan dan diobati, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan saraf dan kecacatan.


Kusta Tidak Mudah Menular

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang kusta adalah anggapan bahwa penyakit ini sangat mudah menular. Padahal, kusta tidak menular hanya karena berjabat tangan, duduk berdekatan, bekerja bersama, atau berbagi makanan.

Penularan lebih berkaitan dengan kontak yang erat dan berlangsung lama dengan penderita yang belum mendapatkan pengobatan. Tidak semua orang yang terpapar bakteri kusta kemudian mengalami penyakit, karena sistem kekebalan tubuh memiliki peran penting dalam melawan bakteri tersebut.

Pemahaman ini sangat penting. Ketakutan yang berlebihan dapat membuat masyarakat menjauhi penderita. Sebaliknya, penderita bisa merasa malu dan memilih menyembunyikan penyakitnya. Akibatnya, pemeriksaan dan pengobatan menjadi terlambat.

Kusta Bukan Kutukan atau Aib

Kusta bukan kutukan, bukan akibat dosa, bukan guna-guna, dan bukan tanda bahwa seseorang memiliki keluarga yang buruk. Kusta adalah penyakit infeksi yang dapat dijelaskan secara medis dan dapat ditangani melalui pengobatan.

Mitos yang berkembang selama bertahun-tahun telah membuat banyak penderita mengalami diskriminasi. Ada yang dijauhi keluarga, kehilangan pekerjaan, tidak diterima di lingkungan sosial, bahkan tetap dikucilkan meskipun sudah selesai menjalani pengobatan.

Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi. Seseorang yang menderita kusta tetap memiliki hak untuk bekerja, belajar, berkeluarga, beribadah, dan bersosialisasi. Penyakit tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan martabat seseorang.

Kusta Dapat Disembuhkan

Kusta dapat disembuhkan dengan terapi kombinasi beberapa obat atau multidrug therapy (MDT). Lama pengobatan disesuaikan dengan jenis dan kondisi penyakit serta penilaian tenaga kesehatan.

Pasien harus mengikuti pengobatan sesuai jadwal dan menyelesaikannya sampai tuntas. Jangan menghentikan obat sendiri hanya karena bercak sudah terlihat membaik atau keluhan mulai berkurang.
Selain membunuh bakteri, pengobatan sejak dini sangat penting untuk mencegah kerusakan saraf. Jika saraf sudah rusak berat, mati rasa atau kelemahan pada bagian tubuh tertentu dapat menetap meskipun infeksinya telah berhasil diobati.

Karena itu, pengobatan kusta harus disertai pemeriksaan fungsi saraf, pemantauan kondisi kulit, serta penanganan segera apabila muncul reaksi kusta.

Deteksi Dini Dapat Mencegah Kecacatan

Masyarakat perlu mengenali tanda-tanda awal kusta. Bercak kulit yang mati rasa, kesemutan terus-menerus, kelemahan tangan atau kaki, luka yang tidak terasa sakit, serta gangguan menutup mata merupakan tanda yang perlu diperiksa.

Pemeriksaan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas. Jangan langsung menganggap setiap bercak kulit sebagai kusta, tetapi jangan pula mengabaikan bercak yang mengalami mati rasa.
Keluarga dan kader kesehatan memiliki peran penting dalam menemukan kasus lebih awal. Jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala mencurigakan, sebaiknya segera diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan.

Periksa Kontak, Bukan Menyalahkan

Ketika satu kasus kusta ditemukan, pemeriksaan sebaiknya tidak berhenti pada pasien. Orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat juga dapat diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Pemeriksaan kontak bukan berarti mencari siapa yang salah. Tujuannya adalah menemukan penyakit sedini mungkin dan mencegah munculnya kasus baru.

Jika memenuhi persyaratan medis, orang tertentu yang memiliki kontak erat dapat diberikan tindakan pencegahan sesuai kebijakan kesehatan yang berlaku. Semua langkah tersebut harus dilakukan melalui pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan.

Kerahasiaan juga harus dijaga. Seseorang tidak boleh diberi label atau dipermalukan hanya karena pernah tinggal bersama penderita kusta.

Cegah Kecacatan Sejak Awal

Kerusakan saraf dapat menyebabkan hilangnya rasa sakit pada tangan dan kaki. Kondisi ini berbahaya karena luka akibat benda panas, benda tajam, atau tekanan berulang mungkin tidak terasa.
Penderita yang mengalami mati rasa perlu memeriksa tangan dan kaki setiap hari, menjaga kebersihan kulit, merawat luka dengan baik, menghindari benda yang terlalu panas, dan menggunakan alas kaki yang sesuai.

Jika diperlukan, pasien dapat memperoleh fisioterapi, perawatan luka, alat bantu, atau pelayanan rehabilitasi lainnya. Dukungan keluarga juga penting agar penderita tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri dan aman.


Hentikan Stigma dan Diskriminasi

Stigma terhadap kusta dapat menjadi penghalang besar bagi keberhasilan pengendalian penyakit. Orang yang takut dikucilkan mungkin memilih menyembunyikan gejalanya. Akibatnya, diagnosis terlambat dan risiko kerusakan saraf semakin besar.

Karena itu, masyarakat harus berhenti menggunakan kata-kata yang merendahkan, menyebarkan foto penderita tanpa izin, atau menjadikan kusta sebagai bahan lelucon.

Pesan “jangan ada lagi kusta” seharusnya tidak berarti menjauhkan orang yang sakit. Yang harus kita hentikan adalah penularan, keterlambatan pengobatan, kecacatan, dan diskriminasi.

Puskesmas Berperan Penting

Puskesmas merupakan salah satu ujung tombak dalam penanganan kusta. Tenaga kesehatan perlu mampu mengenali gejala, melakukan pemeriksaan, memberikan pengobatan, memantau kondisi pasien, memeriksa kontak erat, serta memberikan edukasi kepada keluarga dan masyarakat.

Pelayanan yang ramah dan tidak menghakimi sangat penting. Pasien harus merasa aman untuk menyampaikan keluhan dan mendapatkan informasi yang benar.

Edukasi juga perlu dilakukan secara terus-menerus agar masyarakat memahami bahwa kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan dan bukan alasan untuk mengucilkan seseorang.

Bersama Menuju Masyarakat Bebas Kusta

Mengakhiri kusta membutuhkan kerja sama semua pihak. Tenaga kesehatan memberikan pemeriksaan dan pengobatan. Keluarga memberikan dukungan. Sekolah memberikan edukasi. Tokoh masyarakat membantu meluruskan mitos. Media menyampaikan informasi yang benar. Masyarakat menerima penderita tanpa diskriminasi.

Keberhasilan melawan kusta tidak hanya diukur dari berkurangnya jumlah kasus. Keberhasilan juga terlihat ketika masyarakat tidak takut memeriksakan gejala, pasien mau menjalani pengobatan sampai selesai, kecacatan dapat dicegah, dan orang yang telah sembuh dapat kembali hidup normal.

Jangan ada lagi kusta berarti jangan ada lagi keterlambatan, jangan ada lagi kecacatan yang sebenarnya bisa dicegah, dan jangan ada lagi pengucilan.

Kusta dapat disembuhkan. Stigma juga dapat dihilangkan. Mari kenali gejalanya, segera periksa jika ada tanda yang mencurigakan, dukung pasien menjalani pengobatan, dan perlakukan setiap orang dengan hormat. Dengan pengetahuan, pengobatan, dan kepedulian bersama, masyarakat yang lebih sehat dan bebas dari stigma kusta bukanlah sesuatu yang mustahil. sumber : https://ayosehat.kemkes.go.id/jangan-ada-lagi-kusta-di-masyarakat-kita