Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa semua bentuk asbes, termasuk chrysotile atau asbes putih, bersifat karsinogenik bagi manusia. Pajanan asbes juga berhubungan dengan kanker paru, mesothelioma, kanker laring dan ovarium, serta penyakit paru kronis seperti asbestosis. WHO memperkirakan pajanan asbes di tempat kerja menyebabkan lebih dari 200.000 kematian setiap tahun di dunia, berdasarkan estimasi WHO/ILO untuk tahun 2016.
Artinya, pertanyaan tentang asbes bukan sekadar apakah bahan tersebut masih digunakan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: di mana asbes masih berada, kapan seratnya dapat terlepas, siapa yang paling berisiko, dan bagaimana mencegah pajanan?
Apa Sebenarnya Asbes Itu?
Asbes bukan satu jenis bahan tunggal. Istilah tersebut digunakan untuk kelompok mineral alami yang memiliki bentuk serat sangat halus, kuat, dan tahan terhadap panas serta berbagai kondisi kimia.
Sifat tersebut membuat asbes dahulu sangat menarik untuk digunakan dalam industri dan konstruksi. Material berbahan asbes dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, termasuk lembaran atap, bahan isolasi, pipa, plafon, dan komponen bangunan lainnya.
Namun, keunggulan material tersebut sekaligus menjadi masalah kesehatan ketika seratnya masuk ke udara.
Asbes yang masih utuh dan tidak terganggu tidak selalu menghasilkan tingkat pajanan yang sama seperti material yang rusak atau dikerjakan secara mekanis. Risiko dapat meningkat ketika material dipotong, dibor, diamplas, dipecahkan, dibongkar, atau mengalami kerusakan dan pelapukan.
Serat yang terlepas dapat menjadi sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata. Jika berada di udara, serat tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan mencapai bagian dalam paru-paru.
Karena itu, seseorang tidak seharusnya menilai keamanan asbes hanya berdasarkan apakah material tersebut terlihat bersih atau masih kokoh.
Mengapa Serat Asbes Begitu Berbahaya?
Sistem pernapasan memiliki mekanisme untuk membersihkan berbagai partikel yang masuk melalui udara. Namun, serat asbes memiliki karakteristik yang membuatnya sulit dikeluarkan secara efektif.
Ketika serat mencapai bagian dalam paru-paru, sebagian dapat menetap di jaringan dan memicu respons peradangan serta kerusakan jaringan dalam jangka panjang.
Yang membuat masalah ini semakin serius adalah penyakit akibat asbes biasanya tidak muncul segera setelah seseorang terpapar.
Masa antara pajanan dan munculnya penyakit dapat berlangsung selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Karena itu, seseorang yang pernah bekerja dengan asbes ketika masih muda mungkin baru mengalami penyakit terkait asbes ketika sudah jauh lebih tua.
Inilah alasan mengapa merasa sehat hari ini tidak selalu berarti seseorang terbebas dari dampak pajanan masa lalu.
WHO juga menekankan bahwa penyakit akibat asbes dapat terus muncul bahkan setelah suatu negara menghentikan penggunaannya, karena adanya masa laten yang panjang dan keberadaan material asbes lama pada bangunan.
Penyakit Apa Saja yang Dapat Disebabkan Asbes?
1. Asbestosis: Paru-Paru Mengalami Jaringan Parut
Asbestosis merupakan penyakit paru kronis yang berkaitan dengan pajanan serat asbes.
Serat yang masuk ke paru-paru dapat menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut atau fibrosis. Akibatnya, jaringan paru-paru menjadi lebih kaku dan kemampuan paru untuk bekerja secara normal dapat menurun.
Gejalanya dapat berkembang secara perlahan, antara lain:
- Sesak napas.
- Batuk menetap.
- Mudah lelah.
- Kemampuan beraktivitas menurun.
- Napas terasa semakin berat seiring waktu.
Kerusakan jaringan paru akibat fibrosis umumnya tidak dapat dikembalikan seperti kondisi semula. Karena itu, pencegahan pajanan menjadi sangat penting.
WHO secara khusus mengakui asbestosis sebagai salah satu penyakit kronis yang disebabkan oleh pajanan asbes.
2. Kanker Paru
Pajanan asbes meningkatkan risiko kanker paru. Risiko tersebut menjadi perhatian khusus bagi pekerja yang mengalami pajanan dalam jangka panjang.
Hal yang sangat penting adalah hubungan antara asbes dan rokok.
Merokok sendiri merupakan faktor risiko utama kanker paru. Ketika seseorang juga mengalami pajanan asbes, risiko kanker paru dapat meningkat secara substansial. WHO menyatakan bahwa paparan bersama terhadap asap tembakau dan serat asbes meningkatkan risiko kanker paru, dan risiko tersebut semakin besar dengan semakin beratnya kebiasaan merokok.
Karena itu, bagi orang yang memiliki riwayat pajanan asbes, berhenti merokok merupakan langkah kesehatan yang sangat penting.
3. Mesothelioma
Mesothelioma merupakan kanker yang relatif jarang tetapi memiliki hubungan yang sangat kuat dengan pajanan asbes.
Penyakit ini paling sering menyerang pleura, yaitu selaput yang melapisi paru-paru dan bagian dalam rongga dada. Mesothelioma juga dapat mengenai lapisan tubuh lainnya.
Yang membuat penyakit ini sulit dihadapi adalah masa laten yang panjang. Seseorang dapat mengalami pajanan jauh sebelum penyakit terdiagnosis.
WHO memasukkan mesothelioma sebagai salah satu kanker yang disebabkan oleh seluruh bentuk asbes.
4. Jenis Kanker Lain
Bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa pajanan asbes berkaitan dengan beberapa kanker lainnya. WHO menyatakan bahwa asbes dapat menyebabkan kanker paru, laring, ovarium, serta mesothelioma pada pleura dan peritoneum.
Karena itu, asbes tidak tepat dipandang hanya sebagai masalah "debu yang mengganggu pernapasan". Ini merupakan bahaya kesehatan jangka panjang dan salah satu penyebab kanker yang dapat dicegah melalui pengendalian pajanan.
Siapa yang Paling Berisiko Terpapar?
Risiko tidak terbatas pada pekerja pabrik asbes.
Kelompok yang dapat menghadapi risiko antara lain:
Pekerja konstruksi.
Mereka dapat terpapar ketika memotong, memasang, mengebor, memperbaiki, atau membongkar material lama.
Pekerja renovasi dan pembongkaran.
Bangunan lama dapat mengandung material yang sebelumnya menggunakan asbes. Aktivitas renovasi dapat mengganggu material tersebut dan melepaskan serat ke udara.
Pekerja pemeliharaan gedung.
Petugas yang melakukan perbaikan atap, plafon, pipa, atau instalasi lama perlu mengetahui apakah material yang ditangani mengandung asbes.
Pekerja industri tertentu.
Pekerjaan yang melibatkan bahan isolasi, komponen lama, atau material industri tertentu dapat memiliki risiko pajanan.
Anggota keluarga pekerja.
Pajanan tidak selalu berhenti ketika pekerja meninggalkan tempat kerja. Debu yang menempel pada pakaian, sepatu, atau peralatan kerja dapat berpotensi terbawa ke rumah jika tidak dikelola dengan benar.
Masyarakat sekitar proyek pembongkaran.
Pembongkaran bangunan yang tidak terkendali dapat meningkatkan penyebaran debu ke lingkungan sekitar.
WHO menyebut bahwa pekerja konstruksi dan orang yang melakukan pemeliharaan atau pembongkaran bangunan yang menggunakan asbes dapat tetap menghadapi risiko bahkan bertahun-tahun atau puluhan tahun setelah material tersebut dipasang.
Apakah Tinggal di Rumah Beratap Asbes Berarti Pasti Sakit?
Tidak sesederhana itu.
Keberadaan material yang mengandung asbes tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami penyakit. Risiko sangat dipengaruhi oleh apakah serat asbes masuk ke udara dan terhirup, seberapa besar pajanan, seberapa sering terjadi, berapa lama berlangsung, serta bagaimana material tersebut ditangani.
Material yang rusak, rapuh, atau terganggu oleh aktivitas seperti pemotongan dan pengeboran dapat menjadi perhatian khusus.
Karena itu, masyarakat tidak perlu panik ketika mengetahui sebuah bangunan lama memiliki material yang diduga mengandung asbes. Yang lebih penting adalah jangan mengganggunya secara sembarangan.
Jika tidak yakin apakah suatu material mengandung asbes, jangan mencoba mengidentifikasinya dengan cara memotong, mengikis, atau mengambil sampel sendiri. Untuk pekerjaan renovasi atau pembongkaran yang berpotensi mengganggu material tersebut, gunakan tenaga atau pihak yang memiliki kompetensi dan prosedur keselamatan yang sesuai.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Merenovasi Bangunan Lama?
Renovasi menjadi salah satu situasi yang perlu mendapat perhatian.
Sebelum pekerjaan dimulai, pemilik bangunan dan pekerja sebaiknya mempertimbangkan kemungkinan adanya material lama yang mengandung asbes.
Jangan langsung memotong atau menghancurkan atap, plafon, pipa, atau material lama hanya karena ingin mempercepat pekerjaan.
Prinsip sederhananya adalah:
Kenali material → nilai risikonya → cegah serat menjadi debu → gunakan prosedur kerja yang aman → kelola limbah dengan benar.
Pekerjaan yang menghasilkan debu sebanyak mungkin harus dihindari. Pengendalian teknik dan metode kerja yang tepat harus menjadi prioritas, sementara alat pelindung diri digunakan sebagai bagian dari sistem perlindungan yang lebih luas.
Masker Biasa Apakah Cukup?
Ini merupakan kesalahan yang sering terjadi.
Masker kain atau masker bedah biasa tidak boleh dianggap sebagai perlindungan khusus terhadap pajanan serat asbes.
Pekerja yang memang berisiko membutuhkan perlindungan pernapasan yang sesuai dengan tingkat bahaya dan standar keselamatan kerja yang berlaku. Selain respirator yang tepat, perlindungan juga harus mencakup metode kerja, pengendalian debu, pakaian kerja, kebersihan, dan pengelolaan limbah.
Dengan kata lain, memakai masker saja tidak membuat pekerjaan dengan asbes otomatis aman.
Bagaimana Mencegah Pajanan Asbes?
Pencegahan dimulai dengan menghindari pelepasan serat ke udara.
Jangan memotong atau mengebor sembarangan
Aktivitas seperti mengebor, menggerinda, mengamplas, atau memecahkan material dapat menghasilkan debu.
Jangan menghancurkan material hanya karena ingin membuangnya
Material yang diduga mengandung asbes harus ditangani dengan prosedur yang tepat.
Gunakan metode kerja yang mengurangi debu
Dalam pekerjaan yang memang diperbolehkan dan dilakukan oleh pihak kompeten, metode pengendalian debu dapat digunakan sesuai prosedur keselamatan.
Gunakan APD yang tepat
Perlindungan pernapasan harus sesuai dengan risiko pekerjaan. APD bukan pengganti pengendalian sumber pajanan, tetapi merupakan bagian dari perlindungan pekerja.
Jangan membawa debu pulang
Pakaian dan peralatan kerja perlu dikelola agar tidak menjadi sumber pajanan bagi keluarga.
Kelola limbah dengan benar
Limbah yang berpotensi mengandung asbes tidak seharusnya dibuang sembarangan, dibakar, atau dihancurkan secara bebas.
Peran Tempat Kerja Sangat Penting
Melindungi pekerja dari asbes bukan semata-mata tanggung jawab individu.
Pengusaha dan pengelola tempat kerja perlu mengetahui apakah terdapat material yang mengandung asbes, terutama pada bangunan dan peralatan lama.
Jika material tersebut ditemukan, perlu dilakukan penilaian risiko dan pengendalian yang sesuai. Pekerja juga perlu mendapatkan informasi dan pelatihan mengenai bahaya asbes.
Tempat kerja harus memastikan pekerja memahami:
- Di mana material yang mengandung asbes berada.
- Aktivitas apa yang dapat mengganggunya.
- Bagaimana mencegah terbentuknya debu.
- APD apa yang diperlukan.
- Bagaimana menjaga kebersihan setelah bekerja.
- Bagaimana menangani limbah.
Kapan harus melaporkan kondisi berbahaya.
Pengendalian lingkungan kerja juga penting. Tujuannya bukan hanya melindungi pekerja, tetapi juga mencegah serat terbawa keluar dari area kerja.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Orang dengan riwayat pajanan asbes sebaiknya tidak mengabaikan keluhan pernapasan yang menetap.
Segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan jika muncul:
- Batuk berkepanjangan.
- Sesak napas.
- Nyeri dada yang tidak jelas penyebabnya.
- Batuk berdarah.
- Mudah lelah yang semakin berat.
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
- Gangguan pernapasan yang semakin memburuk.
Yang tidak kalah penting, sampaikan riwayat pekerjaan dan pajanan kepada dokter.
Informasi seperti pernah bekerja di konstruksi, renovasi, pabrik, galangan kapal, atau pekerjaan lain yang mungkin melibatkan asbes dapat membantu dokter menilai risiko secara lebih tepat.
Tidak semua orang dengan riwayat pajanan membutuhkan pemeriksaan yang sama. Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan kondisi individu, riwayat pajanan, gejala, dan penilaian tenaga kesehatan.
Asbes Bukan Masalah Masa Lalu
Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap asbes sebagai masalah yang sudah selesai karena penggunaannya mungkin telah berkurang di berbagai tempat.
Faktanya, material lama masih dapat berada di bangunan selama puluhan tahun.
Bahkan di negara yang telah melarang penggunaan asbes, penyakit akibat pajanan masa lalu masih dapat muncul karena masa laten penyakit yang panjang. WHO menyebut perlindungan terhadap pekerja dalam pemeliharaan dan penghilangan material asbes lama tetap menjadi tantangan penting.
Jadi, fokus kesehatan masyarakat bukan hanya bertanya, "Apakah kita masih menggunakan asbes?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apakah kita masih memiliki bangunan dan material lama yang mengandung asbes, dan apakah material tersebut ditangani dengan aman?"
Kesimpulan: Jangan Panik, Tapi Jangan Meremehkan
Asbes bukan bahan yang harus membuat masyarakat panik. Namun, bahayanya juga tidak boleh dianggap sepele.
Semua bentuk asbes dikategorikan WHO sebagai karsinogen bagi manusia. Pajanan terutama menjadi masalah ketika serat asbes terlepas ke udara dan kemudian terhirup. Dampaknya dapat berupa asbestosis, kanker paru, mesothelioma, serta beberapa kanker lainnya.
Yang paling penting adalah memahami bahwa risiko asbes dapat dicegah.
Jangan memotong, mengebor, mengamplas, membakar, atau menghancurkan material yang diduga mengandung asbes tanpa prosedur yang tepat. Dalam pekerjaan konstruksi, renovasi, pemeliharaan, dan pembongkaran, identifikasi material dan pengendalian pajanan harus menjadi bagian dari perencanaan pekerjaan.
Pekerja perlu mendapatkan pelatihan dan perlindungan yang sesuai. Tempat kerja harus mengendalikan sumber pajanan, menyediakan APD yang tepat, menjaga kebersihan, dan memastikan limbah ditangani dengan benar.
Sementara itu, masyarakat perlu memahami bahwa serat asbes tidak terlihat bukan berarti tidak berbahaya.
Jika kita dapat mencegah serat tersebut terlepas dan terhirup, kita dapat mengurangi risiko penyakit yang mungkin baru terlihat puluhan tahun kemudian.
Asbes mungkin masih ada di sekitar kita. Tetapi pajanan yang tidak perlu tidak harus terjadi. Keselamatan dimulai dari mengenali bahayanya, tidak mengganggu material sembarangan, dan memastikan pekerjaan berisiko dilakukan dengan prosedur yang benar.
Catatan sumber: artikel ini diperbarui berdasarkan informasi kesehatan dari WHO dan IARC serta materi edukasi kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Informasi ini bersifat edukasi dan bukan pengganti pemeriksaan atau diagnosis dokter. Ayo Sehat – Kementerian Kesehatan RI


Komentar
Posting Komentar